Gol Bunuh Diri, Berbuah Ajal Dini

Ungkapan klise ‘manusia tidak ada yang sempurna’ tidak hanya merujuk kepada kehidupan di dunia saja, melainkan itu juga terjadi di lapangan hijau. Andres Escobar mungkin salah satu mendiang yang pas disematkan dengan ungkapan tersebut. Pemain bertahan Kolombia ini ialah sosok yang tepat di lini belakang. Terbukti dikala membawa negara tercinta ke kancah Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat.

Namun gol bunuh diri yang dilakukan dalam turnamen akbar empat tahunan tersebut, ialah buah kesalahan kecil dalam karirnya yang tak sebanding dengan menghilangkan nyawanya. Yap, Escobar mesti meninggal lebih dulu dari takdir yang dituliskan, sehabis ditembak oleh seseorang dikala hendak pulang dari klub malam bersama temannya. Pemicu terbesar kematiannya, ialah gol bunuh diri dikala melawan tuan rumah.

Padahal sepak terjang Escobar membawa Kolombia ke jalur Piala Dunia cukup solid, bung tak percaya? coba simak saja ceritanya

Pemimpin Elegan dan Gentleman Kaprikornus Julukan Escobar Secara Permanen

 tidak hanya merujuk kepada kehidupan di dunia saja Gol Bunuh Diri, Berbuah Kematian Dini

Solidnya tim Kolombia tak akan berjalan tepat tanpa kehadiran Escobar. Sosok pemimpin bertalenta yang piawai menghalau serangan. Gaya permainan yang elegan, selalu damai meskipun digempur serangan dan mengambil takel higienis di lapangan menciptakan pemain ini menerima julukan Caballero del Futbol atau Gentleman of Football. Pemain kelahiran 13 Maret 1968 ini mempunyai karir cemerlang tak hanya di tim nasional, alasannya ialah ia sempat berkarier di klub BSC Young Boys di Swiss meskipun untuk periode yang tidak begitu lama.

Datang Sebagai Penantang, yang Digadang Memberikan Perlawanan Garang

 tidak hanya merujuk kepada kehidupan di dunia saja Gol Bunuh Diri, Berbuah Kematian Dini

Salah satu kandidat negara yang bakal disebut bakal berbicara banyak di Piala Dunia 94 kala itu ialah Kolombia. Bukan sesumbar atau prediksi asal, Kolombia tak terkalahkan di fase kualifikasi Piala Dunia Grup A Amerika Selatan bung. Tim yang dimotori oleh Faustino Asprilla, Carlos Valderrama, Freddy Rincon, menjadi negara yang tak terkalahkan. Total dari enam laga, mereka berhasil membubukan empat kemenangan dan dua kali imbang.

Ditambah lagi, jawara sepakbola Amerika Selatan macam Argentina, dibantai habis dengan skor telak 5-0 di sabung terakhir! menciptakan skuad tim tango harus menjalani partai play-off demi memastikan tampil di Piala Dunia. Ketangguhan Kolombia pun sanggup dilihat secara statistik menjelang pagelaran akbar tersebut, dari total 26 pertandingan menuju Piala Dunia, Kolombia hanya sekali bertekuk lutut alias kalah. Kepiawaian tim ini tentu saja berkat Escobar yang dikala itu menjabat sebagai kapten tim.

Dari Prediksi Pele Sampai Harapan, Hingga Menenangkan Ketegangan di Kolombia

 tidak hanya merujuk kepada kehidupan di dunia saja Gol Bunuh Diri, Berbuah Kematian Dini

Ekspetasi, sebuah kata yang menghantui skuad Kolombia di masa itu. Calon kuda hitam terkuat pun diberikan oleh para pengamat sepak bola. Legenda Brasil yang menjuarai Piala Dunia tiga kali, Pele, menunjukkan prediksi kalau Kolombia bakal menembus babak semifinal.

Rakyat Kolombia pun berharap atas kiprah negaranya, terlebih situasi dikala itu tengah memanas sehabis tewasnya sang dedengkot narkoba, Pablo Escobar. Pasalnya, pasca meninggal Pablo Escobar memicu perang antar geng untuk memuncaki kekuasaan tertinggi di jalur perdagangan barang haram tersebut. Alhasil Kolombia di Piala Dunia diperlukan memberi secercah kebahagiaan, dengan menjadi pemersatu perang antar geng. Lantas apakah sanggup Kolombia menjawab keinginan itu semua?

Jawabannya tidak. Sinyal jelek sudah menerpa Los Cafeteros, ketika takluk di tangan Romania di sabung perdana oleh Maradona dari Carpathia alias Gheorghe Hagi. Skor ditutup dengan hasil telak 1-3. Dampak kekalahan memicu kerusuhan, penjudi yang berasal dari geng narkoba yang kalah, jadi penyebab utama. Mereka yang kalah judi memberi bahaya pembunuhan yang dilayangkan kepada para pemain termasuk sang manajer, Maturana.

Menjamu Tuan Rumah di Laga Kedua, Gol Bunuh Diri Kaprikornus Awal Mula Dihabisi Nyawanya

 tidak hanya merujuk kepada kehidupan di dunia saja Gol Bunuh Diri, Berbuah Kematian Dini

Setelah kekalahan telak 1-3 dari Rumania, menciptakan Kolombia harus tertekan di sabung kedua. Menjamu Amerika Serikat, selaku tuan rumah, tunjangan publik Paman Sam pun menambah tekanan semakin mendalam. Dan di sabung ini lah terjadi momen yang mana sosok Escobar melaksanakan gol bunuh diri.

Turun sebagai starter, Escobar coba bermain rapih dengan menghalau serangan lawan. Selaku tuan rumah permainan menekan sesekali ditunjukan. Tepat di menit ke-35, umpan silang  dilepaskan oleh John Harkes  ke lisan gawang Kolombia. Bola tersebut coba dipotong oleh Escobar dengan memakai kakinya, bola tersebut memang terhalau namun naas malah masuk ke gawang sendiri. Lantaran Escobar merentangkan kakinya dalam posisi menghadap gawang sendiri.

Penjaga gawang Kolombia mati langkah. Alhasil skor pun berubah 0-1 untuk Amerika Serikat. Diakhir sabung Kolombia harus takluk 1-2. Kans buat lolos pun semakin suram dengan dua sabung dijalani dengan kekalahan. Dan terbukti, meskipun di sabung terakhir Kolombia menang lawan Swiss, di pertandingan lain Rumania mengalahkan AS. Prediksi pele pun berhenti, dengan kenyataan Kolmbia tersingkir sebagai juru kunci.

Simpang Siur Cerita, Antara Ditembak Karena Dianggap Biang Kesalahan Atau Pelampiasan Kalah Perjudian

 tidak hanya merujuk kepada kehidupan di dunia saja Gol Bunuh Diri, Berbuah Kematian Dini

Usai tak sanggup berbicara lebih banyak di Piala Dunia 94, Escobar kembali ke tempat kelahirannya, Medellin, Kolombia. Yang mana juga jadi tempat di mana ia menutup mata. Sebenarnya, Escobar sudah diperingatkan untuk tidak pulang, alasannya ialah kondisi kota yang tidak kondusif. Tapi hasrat memanggilanya untuk pulang.

Mungkin untuk melupakan kesalahan atau meringankan beban yang dihantui, Escobar berkumpul bersama temannya di satu kafetaria kawasan Medllin. Setelah itu, mereka pun berpindah ke klub malam lainnya masih di kawasan yang sama berjulukan El Indio. Escobar berpamitan dengan temannya lebih dulu untuk segera pulang, dikala di parkiran ia terlibat perseteruan dengan beberapa orang yang menyebutkan kegagalan Kolombia di Piala Dunia ialah kesalahannya.

Setelah bersitegang, tiba-tiba salah seorang mengeluarkan pistol dan menembakkan ke arah Escobar sebanyak enam kali. Tiap tembakan, sang penembak berteriak “Gool!”. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit, ia tetap tidak selamat. Dan harus meninggal lebih cepat. Selang beberapa hari dari kasus tersebut muncul sebuah nama, Humberto Castro Munoz yang diduga sebagai penembak.

Setelah dikulik lebih dalam ternyata ia ialah seorang supir dan bodyguard dari gembong narkoba bersaudara Kolombia, Peter David Gallon dan Juan Santiago Gallon.  Munoz pun diringkus dan ditetapkan sebagai tersangka. Meskipun beredar beberapa versi perihal maut Escobar, namun sampai kini alasan terkuat ia dibunuh ialah perjudian. Antara sang majikan yang kalah judi, atau Munoz sendiri.

Di pemakamannya, lebih dari 120 ribu orang tiba dan mengantar kepergiannya. Kematiannya mencoreng nama Kolombia di publik internasional, dan beberapa pemain timnas menetapkan pensiun dini untuk menghindari hal serupa.